SATUMEDIA.ID – Dari 27 Kabupaten kota yang menggelar pilkada serentak pada 27 November mendatang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) menjadi Battleground (Medan pertempuran) paling sengit, karena daerah ini menjadi titik didih dari pertarungan politik nasional pasca Pileg dan Pilpres 2024 yang lalu.
Sebagaimana diketahui KBB merupakan benteng pertahanan PDIP di Jawa Barat, khususnya di wilayah Bandung Raya. Semenjak berdirinya KBB dan melaksanakan Pilkada, Kader PDIP yaitu Abubakar memimpin selama 2 periode, dilanjutkan oleh AA Umbara yang sebelumnya kader PDIP tapi karena tidak diusung loncat ke NasDem dan akhirnya menang.
Namun hanya bertahan 2,5 tahun karena tersangkut masalah hukum. Dilanjutkan oleh Wakilnya Hengki Kurniawan yang menjadi Bupati, yang pada saat pencalonan Kader Demokrat, namun tidak lama setelah terpilih pindah ke PDIP. Sehingga ketika jadi Plt dan Bupati definitif sudah jadi Kader PDIP.
Saat ini Hengki Kurniawan maju kembali menjadi Calon Bupati berpasangan dengan Ade Sudrajat, yang diusung oleh PDIP dan NasDem. Artinya ini akan menjadi pertaruhan kekuatan PDIP di KBB.
Berdasarkan Beberapa hasil Lembaga survei, calon yang diusung PDIP di wilayah Bandung Raya, yang paling berpeluang untuk menang itu di KBB. jadi wajar ketika KBB merupakan battleground yang paling sengit.
Hengki punya popularitas dan elektabilitas yang tinggi, tapi pasangannya Ade Sudrajat kurang populer, namun kelemahan tersebut terbantu dengan pergerakan mesin politik khususnya PDIP yang masif sampai akar rumput.
Sedangkan Paslon Jeje Ritchie Ismail – Asep Ismail (BERJAMAAH), ketika di bulan Juni diadakan survei oleh salah satu lembaga survei nasional tentang para bakal calon yang potensial untuk maju di KBB. Jeje belum ada pada daftar tokoh yang berpotensi maju.
Namun setelah pendaftaran 27 Agustus, Jeje yang berpasangan dengan Asep Ismail, hasil surveinya naik dengan cepat dan sudah mendekati pasangan HADE. artinya popularitas Jeje yang di endorse oleh Rafi Ahmad benar-benar naik dengan cepat.
Kekuatan pasangan ini juga didukung oleh popularitas calon wakilnya, yang dimana Asep Ismail sebagai mantan kepala Kemenag KBB, sudah sangat dikenal oleh tokoh-tokoh agama. Ditambah dengan sokongan Partai Gerindra dan PAN yang cukup solid, sebagai partai penguasa tentunya akan memanfaatkan efek ekor jas dari Prabowo sebagai presiden yang juga Ketua Umum Partai Gerindra. Sehingga elektabilitas pasangan ini cukup tinggi.
Begitu juga Pasangan DILAN. pasangan ini akan menjadi saingan berat juga buat HADE. Karena Pasangan Dilan secara popularitas ketokohan calon bupati dan wakilnya, keduanya saling melengkapi, Gilang Dirga sebagai pesohor bisa menggarap kelompok pemilih Gen Z dan juga masuk ke kalangan ibu-ibu.
Kekuatan pasangan ini juga disokong oleh kekuatan dari militansinya kader PKS yang bergerilya door to door, sehingga tak heran surveu pasangan ini juga tinggi dan nempel terus ke pasangan HADE dan BERJAMAAH.
Kalau kita melihat kekuatan tiga pasangan calon ini terletak pada popularitas dan elektabilitas pasangan calonnya serta kekuatan mesin politiknya.
Dengan melihat peta kekuatan ketiga pasangan calon tersebut, untuk menjadi pemenang Pilkada di KBB, patut ditunggu strategi apa yang dilakukan oleh masing-masing pasangan calon tersebut menjelang berakhirnya masa kampanye.
Apakah Pasangan HADE yang diusung oleh PDIP akan mempertahankan benteng pertahanan terakhirnya di wilayah bandung raya, ataukah berubah?. Mari Kita tunggu sampai hasil pencoblosan 27 November nanti.
* Penulis Holid Nurjamil
Ketua Pusat Kajian Politik Ekonomi dan Pembangunan





