SATUMEDIA.ID – Kala teman atau saudara berulang tahun, di grup WA sering terucap ,” Selamat Ulang Tahun Panjang Umur dan Baroqah “ atau “Barakallahu fii umrik!”.
Saling mendoakan untuk keberkahan usia acap kali diucapkan agar yang berulang tahun panjang usianya dan barokah . Usia yang panjang dan sehat merupakan dambaan banyak orang. Namun, usia yang panjang ini bisa menjadi berkah dan musibah, tergantung siapa yang menjalaninya.
Bagi orang yang saleh, usia yang panjang adalah kesempatan emas karena akan semakin banyak amal kebaikan yang akan ia lewati. Akan tetapi, jika orangnya thalih (kebalikan dari saleh), maka usia panjang malah akan membuatnya semakin banyak bermaksiat dan dosa.
Rasulullah SWT bersabda “Sebaik-baik manusia ialah yang lanjut (panjang) umurnya dan baik amal perbuatannya. Sedangkan seburuk-buruk manusia ialah yang panjang umurnya dan jelek amal perbuatannya.” (H.R. At-Tirmidzi).Juga usia merupakan salah satu yang akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT. “Tidak akan melangkah kedua kaki seorang hamba sehingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa digunakan …” (H.R. At-Tirmidzi).
Mengutip pendapat ustadz Roni Rodiana dari UIN SGD Bandung “Semakin bertambah usia semakin lemah tangan menggenggam, karena Allah SWT sedang mendidik kita agar melepaskan cinta dunia. Artinya apabila seorang hamba hanya meminta kenyamanan hidup di dunia sebagai balasan atas amal baik yang telah dilakukannya, maka bisa saja Allah SWT memberikan hal itu secara kontan dan tanpa pengurangan sedikit pun. Akan tetapi mungkin saja ia tidak akan memanen amal-amalnya baiknya yang dilipat-gandakan itu ketika di akhirat.
Sesuai surah Hud ayat 15-16 :“Barangsiap
a menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. (15) Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan. (16).
Selanjutnya Ustadz Roni Rodiana menyitir ..semakin bertambah usia semakin kabur mata kita…karena Allah SWT sedang menerangkan mata hati untuk melihat akhirat… sesuai urat Al-Isra Ayat 72 artinya: Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).
Selanjutnya …semakin bertambah usia semakin sensitif perasaan kita…lihat surat Luqman Ayat 22 Artinya: Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.
Sebagai refleksi diri, termuat penerimaan diri, menyadari bahwa perubahan fisik dan emosional seiring bertambahnya usia adalah bagian dari proses pembelajaran dan pendidikan dari Allah SWT, refleksi berikutnya adalah fokus pada akhirat ,mengalihkan fokus dari dunia yang sementara menuju persiapan untuk kehidupan yang kekal di akhirat.
Refleksi diri lainnya adalah ketergantungan pada Allah SWT, menguatkan iman dan kepercayaan kepada Allah SWT sebagai satu-satunya tempat bergantung yang tidak akan mengecewakan.
Allah SWT telah berfirman dalam Al Quran surat Ar Rum ayat 54, Artinya: Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.
Senada dengan ayat di atas, Allah juga berfirman dalam Al Quran surat Yasin ayat 68 yang menerangkan bahwa manusia yang berumur panjang akan kembali ke keadaannya seperti semula (lemah seperti bayi yang baru dilahirkan), artinya: Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian (nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan? Berkahnya Usia Senja.
Sama halnya dengan penjelasan sebelumnya, pengetahuan tentang fase hidup manusia juga tertuang secara lengkap dalam Al Quran surat Al Hajj ayat 5, Artinya: Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya.
Hal tersebut menunjukkan bahwa usia yang sangat tua menjadikan seseorang tidak lagi memiliki produktivitas karena daya fisik dan ingatan yang telah berkurang. Adapun yang harus digarisbawahi adalah kelemahan dan pikun (mudah lupa).
Namun, kekurangan-kekurangan tersebut dapat dimaklumi dan akan menjadi keberkahan apabila seorang muslim yang diberkahi umur panjang mau memanfaatkan sisa hidupnya hanya untuk beriman dan beribadah kepada Allah SWT .
*Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM.





