SATUMEDIA.ID – Sebagai muslim, Islam menganggap pemahaman terhadap hakikat menghargai waktu sebagai salah satu indikasi keimanan dan bukti ketaqwaan. Mari kita berhitung berapa lama waktu yang kita gunakan untuk beribadah, rutinitas sehari-hari atau pakai smartphone?.
Hanya Anda yang tahu dan paham betapa selama ini tanpa kita sadari lebih banyak menggunakan waktu untuk urusan duniawi ketimbang urusan akhirat. Padahal Islam secara universal memandang waktu sebagai sesuatu yang diciptakan.
Ini adalah karya tangan Allah SWT, seperti semua ciptaan, berada di bawah perintah Allah SWT bertindak di dalam dan melalui sejarah, namun karena bersifat kekal, waktu tidak mencakup Allah SWT. Alam juga merupakan ciptaan-Nya, namun meskipun alam memanifestasikan keagungan-Nya, alam sama sekali tidak melingkupi Allah SWT .
Dalam ajaran Islam, ciri-ciri seorang muslim yang dicintai Allah SWT adalah yang menghargai waktu. Mengelola waktu dengan baik dan tidak menyia-nyiakannya adalah kewajiban bagi umat muslim.
Dalam Surat Al-Furqan ayat 62, Allah berfirman:Artinya: Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. Rasulullah SAW menegaskan bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan.
Beliau juga mencontohkan kepada sahabat tentang pentingnya menghargai waktu hingga akhirnya menjadi kebiasaan yang diterapkan dalam berbagai kesempatan., Rasulullah SAW bersabda:“Siapkan lima sebelum (datangnya) lima. Masa hidupmu sebelum datangnya waktu matimu. Masa sehatmu sebelum datangnya waktu sakitmu, masa senggangmu sebelum datang masa sibukmu, masa mudamu sebelum datang masa tuamu, dan masa kayamu sebelum datang masa miskinmu.” (HR. Baihaqi).
Hadits di atas mengajarkan umat muslim betapa pentingnya mengelola waktu. Jika memanfaatkan dan menghargai waktu sebaik mungkin, hal itu akan membawa kebahagiaan bagi manusia di dunia dan akhirat.
Dengan merenungkan ayat-ayat Al-Quran dan hadist tentang waktu dan betapa kuasanya Allah SWT dalam mengatur waktu, maka bisa dikatakan bahwa waktu adalah ujian dan anugerah dari Allah SWT . Penggunaan waktu harus dilakukan dengan bijak mencakup ketaatan kepada-Nya, berbuat baik kepada sesama, dan berusaha menjadi individu yang lebih baik. Dengan menyadari pentingnya waktu, kita dapat merencanakan dan menjalani kehidupan dengan cara yang lebih bermakna dan berarti.
Dalam Al Quran, Allah SWT juga menyebut kata waktu secara spesifik. Bahkan Allah SWT menjadikan waktu-waktu tertentu sebagai kata yang dipakai untuk sumpah yang menunjukkan betapa pentingnya waktu. Selain itu, Allah SWT juga menyebut waktu dengan berbagai macam jenis kata, diantaranya :
1. Surat Al Asr ayat 1-2: artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.” Kata ‘Ashr’ diartikan sebagai masa. Allah SWT bersumpah dengan masa yang terjadi di dalamnya bermacam-macam kejadian dan pengalaman yang menjadi bukti atas kekuasaan Allah SWT yang mutlak, hikmah-Nya yang tinggi, dan Ilmu-Nya yang sangat luas.
2. Surat Al Lail ayat 1-2: artinya: “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), demi siang apabila terang benderang.” Malam yang gelap gulita dan hening menjadi waktu bagi manusia untuk beristirahat dari kepenatan kerja di siang hari.
3. Surat Al-Dhuha ayat 1-2: artinya: “Demi waktu dhuha (ketika matahari naik sepenggalah), dan demi malam apabila telah sunyi.” Penyebutan waktu dhuha mengisyaratkan bahwa tenggang waktu ketika Nabi tidak menerima wahyu beberapa lama bagaikan malam yang gelap, sedangkan turunnya surat ini setelah itu bagaikan fajar yang menyingsing.
4. Surat Al-Fajr ayat 1-2: artinya: “Demi fajar, demi malam yang sepuluh.” Demi fajar, yaitu awal mula terangnya bumi setelah kegelapan malam sirna. Pada waktu ini manusia memulai aktivitasnya. Allah bersumpah dengan fajar di yaumun-nahr (hari penyembelihan kurban), yaitu tanggal 10 Zulhijah, yang diikuti ayat berikutnya membicarakan “malam yang sepuluh”, yaitu sepuluh hari pertama bulan tersebut.
5.Surat Al-Takwir ayat 18: artinya: “Dan demi subuh apabila fajar telah menyingsing.” Dalam ayat ini Allah bersumpah demi subuh apabila fajar mulai menyingsing dan bersinar. Waktu subuh digunakan Allah SWT dalam bersumpah karena waktu ini menimbulkan harapan yang menggembirakan bagi setiap manusia yang bangun pagi karena menghadapi hari yang baru.
6 Surat An-Nisâ’ ayat 103: artinya: “Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan salat(mu), ingatlah Allah SWT ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah salat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
7. Surat Yunus ayat 49 :artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki.” Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” Ayat ini merupakan penegasan Allah bahwa tiap-tiap umat mempunyai ajal yang telah ditentukan waktunya oleh Allah.
8. Surat Al-Jāsiyah ayat 24: artinya: “Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.” Pada ayat ini Allah menjelaskan keingkaran orang-orang musyrik terhadap hari kebangkitan.
9.Surat Al-Jin ayat 25: artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat ataukah Tuhanku menetapkan waktunya masih lama.””. Dalam Tafsir Kementerian Agama RI, ayat ini dan ayat-ayat sesudahnya adalah jawaban atas pertanyaan, “Bilakah datangnya hari yang dijanjikan itu kepada kami”.
Allah menyuruh Nabi-Nya agar menyampaikan kepada manusia bahwa hari Kiamat itu pasti akan tiba, tidak ada keraguan pada-Nya.
10. Surat Al-A’rāf ayat 187: artinya: “Mereka menanyakan kepadamu (Nabi Muhammad) tentang kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Tuhanku. Tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk yang) di langit dan di bumi. Ia tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM.




