Niat dalam Hati

Dede Supriatna mantan pegawai bank BRI dan alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023.(Dokumen pribadi)**

SATUMEDIA.ID – Secara bahasa, niat adalah al-qashd, yang artinya keinginan. Sementara secara istilah syar’i, niat didefinisikan sebagai azam atau tekad untuk mengerjakan suatu ibadah dengan ikhlas karena Allah SWT , yang letaknya berada di dalam batin atau hati.

Seperti sabda Rasulullah SAW innamal a’malu binniyat artinya adalah “Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niatnya”. Kalimat ini berasal dari penggalan hadist Rasullulah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Niat memiliki dua fungsi utama, pertama yaitu untuk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya, atau membedakan antara ibadah dengan kebiasaan.

Lalu, yang kedua yaitu untuk membedakan tujuan seseorang dalam beribadah. Berniat untuk beribadah tersebut karena Allah SWT semata, dan berniat bahwa ia menunaikannya demi melaksanakan perintah Allah SWT. Artinya sesuai sabda Rasulullah SAW , semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu apa yang ia niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah SWT dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah SWT dan Rasul-Nya.

Dalam Islam ditegaskan bahwa niat seseorang hendaknya murni dan tulus, hanya mencari keridhaan dan pahala Allah SWT . Artinya setiap ibadah atau perbuatan baik harus dilakukan semata-mata karena Allah SWT, tanpa ada keinginan untuk mendapatkan keuntungan atau pengakuan duniawi. Niat dinilai sah dalam setiap ibadah jika niat tersebut berada di dalam hati. Dan tidak cukup dengan dilafazkan oleh lisan, namun hati lalai untuk berniat.

Mengenai urgensi niat, Rasullullah SAW bersabda . “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, sedangkan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Secara garis besar, hadits ini membahas bahwa amal kebaikan tergantung pada niat pelakunya, jika tujuannya ikhlas karena Allah SWT dan Rasul-Nya, maka amalnya akan tertuju kepada Allah SWT . Namun, jika amalnya hanya untuk menggapai urusan dunia, maka dia hanya mendapat yang dia cari.

Allah SWT berfirman:”Mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (istikamah), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah :5).

Sebagai hamba yang meminta ampunan, perlindungan, dan kerahmatan dari Allah SWT , harusnya ibadah yang kita lakukan dilandasi dengan niat tulus beribadah dan niat mencari rida Allah SWT. Wujud keikhlasan beribadah harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar seluruh ibadah yang kita lakukan diterima oleh Allah SWT.

Kekuatan niat yang berdampak besar terhadap pahala dan juga perilaku yang akan dilakukan. Sebagai hamba Allah SWT, dalam melakukan apapun harus memiliki niat beribadah kepada Allah SWT.

Hadist tentang niat berdasarkan HR Bukhari dan Muslim, menjadikan peringatan bagi diri kita agar senantiasa meniatkan segala hal terutama untuk beribadah dan berserah diri kepada Allah SWT. Konsep niat bukan sembarangan dalam islam melainkan sangat diperhatikan. Sehingga, sebagai umat muslim kita harus senantiasa mengucapkan niat dalam hati sebelum melakukan aktifitas apapun dan mengingat bahwa Allah SWT akan memberikan amalan pahala tergantung niat yang kita miliki.

Sesungguhnya Allah SWT maha mengetahui dan maha melihat atas seluruh perilaku yang kita lakukan berdasarkan niat kita.

* Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM

 

Pos terkait