SATUMEDIA.ID – Sabar merupakan sikap yang harus diambil oleh setiap muslim apabila tertimpa sakit atau musibah. Sesuai dengan firman Allah SWT , QS Al-Baqarah 156-157 : “yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.
Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” . Sedangkan hadist yang menjelaskan perkara sabar ialah seperti diriwayatkan Anas AS , Rasulullah SAW bersabda “ Sesungguhnya sabar itu pada goncangan pertama ,saat datang musibah ( HR Bukhari). Jika nikmat sehat adalah cara Allah SWT menguji syukurmu, maka nikmat sakit adalah cara Allah SWT menguji sabarmu.
Berbicara tentang sakit, maka sudah tentu kita semua pasti sudah pernah mengalaminya, karena sakit sebenarnya adalah cara Allah SWT memberitahu kita bahwa tubuh yang kita miliki adalah amanah dari-Nya.
Allah SWT memberikan cobaan rasa sakit kepada hamba-Nya, sebab di balik sakit ada kebaikan besar dan sebagai wujud dari kasih sayang-Nya. Oleh karena itu, jangan pernah putus atas dan kecewa ketika Allah SWT memberi cobaan sakit.
Hidup ini tidak lepas dari cobaan dan ujian, bahkan cobaan dan ujian merupakan sunatullah dalam kehidupan. Manusia akan diuji dalam kehidupannya baik dengan perkara yang tidak disukainya atau bisa pula pada perkara yang menyenangkannya. Allah SWT berfirman , “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyaa’: 35).
Rasulullah SAW bersabda , “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim).
Ketahuilah, penyakit merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah Anda lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuhmu.
Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah dilakukan.Sebagaimana firman Allah SWT “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuura: 30).
Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda,”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya (HR. Muslim).
Dalam hadist lain Rasullullah SAW bersabda,” Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim).
Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah SWT dengan musibah sakit yang dideritanya. Sesungguhnya di balik penyakit dan musibah akan mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah SWT agar kembali kepada-Nya.
Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat wal ‘afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Allah SWT .Oleh karena itu, jika Allah SWT mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Allah SWT .
Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia kembali pada Allah SWT dengan penyesalan dan kepasrahan diri.
Allah SWT berfirman , “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. Al-An’am: 42) .
Di balik cobaan berupa penyakit dan berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat hikmah yang sangat banyak. Keadaan sakit merupakan bentuk ujian dari Allah SWT sebagai jalan untuk meningkatkan derajat manusia. Sakit merupakan ketentuan Allah SWT , tetapi kita diberi akal dan jalan oleh Allah SWT untuk sembuh.
Sebagai muslim yang taat beragama, apabila sakit kita diwajibkan ikhtiar untuk memperoleh kesembuhan dengan tidak lupa berdoa kepada Allah SWT. Ketika Anda sakit Allah SWT menarik tiga hal yakni keceriaan wajah, nafsu makan dan dosa.
Ketika sembuh Allah SWT mengembalikan semuanya kecuali dosa. Sebab tidak ada seorang muslim pun yang ditimpa suatu luka , meskipun itu hanya sekedar tertusuk duri, melainkan Allah SWT menghapuskan dosa-dosanya karenanya, dan dosa-dosanya berguguran seperti daun-daun berguguran dari pohon.
Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah berupa sakit atau lainnya, melainkan Allah SWT akan menggugurkan dosa-dosanya dengan sakitnya itu. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : ‘Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan apa yang aku jumpai dan aku takut. ‘” – (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Pada dasarnya sakit atau musibah adalah sebagai ujian bagi orang mukmin, juga sebagai peringatan atau teguran bagi umat manusia pada umumnya. Oleh karena itu bila sakit tak kunjung sembuh hendaknya sebagai muslim senantiasa berpikir positif.
Saat berpikir positif, hal terburuk apa pun dapat dihadapi dengan tenang, hindari sering mengeluh, melakukan kegiatan positif atau mengalihkan pikiran dari rasa sakit ke kegiatan yang menyenangkan, terus berdoa kepada Allah SWT dan sebagai upaya ikhtiar berobat kepada ahlinya.
*Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM




