Amalan di Bulan Syawal

Dede Supriatna

SATUMEDIA – Dalam kalender Hijriah, Syawal adalah bulan kesepuluh setelah bulan Ramadhan. Tanggal 1 Syawal 1445 Hijriah atau 10 April 2024, menandakan berakhirnya puasa Ramadan 2024.

Mengutip laman Kemenag, arti kata Syawal ini secara etimologis adalah peningkatan. Jadi menyambut bulan Syawal tidak terlepas dari rangkaian ibadah kita pada bulan Ramadan. Momen kemenangan dan kefitraan yang diraih karena sukses beribadah puasa, sukses mengendalikan hawa nafsu, patut dimanifestasikan dalam makna yang sebenarnya.

Pasca Ramadan tetap istiqamah menjalankan perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-Nya. Dengan demikian pada bulan Syawal hendaknya setiap muslim meningkatkan amalan ibadahnya.

Bukan cuma itu, kualitas iman dan taqwanya juga harus meningkat. Berikut ini amalan-amalan yang seyogyanya dapat dilaksanakan umat Islam pada bulan Syawal diantaranya mengadakan silaturahmi khususnya setelah lebaran Idulfitri, umat Islam memiliki tradisi untuk saling mengunjungi keluarga dan kerabat, memang dianjurkan Rasulullah SAW. Sebagaimana hadits Nabi bersabda,”Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya ia menyambung silaturrahminya (dengan kerabat).”(HR. Bukhari).

Amalan berikutnya yakni melaksanakan puasa Syawal 6 Hari – sesuai anjuran puasa syawal ini sebagaimana hadits Rasulullah SAW: “Siapa saja yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim).

Adapun pelaksanaan puasa Syawal ini bisa dilakukan sehari setelah Shalat Idul Fitri, yakni pada tanggal 2 Syawal hingga berakhirnya bulan Syawal. Pengerjaannya pun dapat dilaksanakan secara berturut-turut maupun secara acak.

Beberapa riwayat mengatakan puasa Senin dan Kamis merupakan salah satu puasa sunnah yang dianjurkan Rasulullah SAW. Sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah RA : “Rasulullah SAW sangat antusias dan bersungguh-sungguh dalam melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Imam Ahmad).

Amalan selanjutnya adalah menjaga Shalat Wajib dan Sunnah amalan shalat yang telah dihidupkan selama bulan Ramadhan, seharusnya tak ditinggalkan setelahnya. Karena itu pada bulan Syawal ini sebaiknya menjaga dan terus meningkatkan amalan salat baik yang wajib maupun yang sunnah sebagaiman firman Allah SWT dalam QS. AL-Baqarah ayat 238: Hendaklah kalian senantiasa menjaga salat-salat (yang telah diperintahkan), juga dianjurkan adalah membangun rumah tangga, menikah ataupun menikahkan sanak keluarga.

Hal ini sebagaimana hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu Anha;: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menikahiku pada bulan Syawal dan berkumpul denganku pada bulan Syawal, maka siapa di antara istri-istri beliau yang lebih beruntung dariku?” (HR Muslim).

Amalan lainnya yakni kebiasaan i’tikaf yang dikerjakan pada bulan Ramadhan juga tetap disunnahkan pada bulan Syawal. Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa tujuan amalan i’tikaf ini agar menjaga hati untuk tetap tertuju kepada Allah SWT semata, juga momentum untuk meningkatkan sedekah dan ibadah sosial lainnya.

Hal ini sebagai bentuk rasa syukur setelah meraih hari kemenangan Idul Fitri. Asma’ binti Abi Bakr berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padaku:”Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.”Dari amalan-amalan pada bulan Syawal tadi pasca Ramadhan maka sebagai umat muslim yang taat hendaknya dapat melakukan muhasabah yaitu melakukan introspeksi diri terhadap proses perjalanan ibadah di bulan Ramadhan.

Sesuai sabda Rasullalh SAW : “Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.’ (HR Tirmidzi).

Selanjutnya adalah melakukan mujahadah yakni bersungguh-sungguh dalam berjuang untuk mempertahankan tren positif ibadah bulan Ramadan. Di bulan Syawal ini, kita harus tancapkan tekad untuk terus melestarikan kebiasaan-kebiasaan positif selama Ramadhan. Allah SWT berfirman pada surat Al-Ankabut ayat 69: “Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk (mencari keridaan) Kami. Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang orang yang berbuat baik”.

Cara selanjutnya adalah muraqabah yakni mendekatkan diri kepada Allah.. Rasulullah saw bersabda: “Hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, sebab meski engkau tidak melihat-Nya, Dia melihatmu…” (HR Bukhari).

Nilai-nilai ketakwaan dengan senantiasa melakukan muraqabah ini seharusnya memang sudah tertancap dalam hati kita karena muara dari ibadah puasa di bulan Ramadan.
an sendiri adalah ketakwaan. Hal ini sudah ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah: 183: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

*) Penulis Dede Supriatna mantan pekerja bank BRI dan alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023

Pos terkait