SATUMEDIA.ID – Seseorang yang senang menunjukkan kebencian, mengkritik, atau meremehkan orang lain biasanya dilakukan secara tidak adil dan tendensius. Pembenci atau dalam bahasa Inggris disebut hater dan kadang juga disebut haters bila hater membentuk kelompok yang membenci seseorang.
Istilah ini mulai menyebar secara umum (viral) ketika ramai orang bermedia sosial lewat digital. Nyaris tiap hari kita menemukan ujaran kebencian, ghibah, fitnah di media sosial apakah itu WA, Face Book, IG, Twiter dan media sosial lainnya.
Dengan kemampuan mengolah kata, gambar sehingga muncul narasi gibah atau fitnah ujung-ujungnya hoaks. Fenomena seperti makin nampak mengisi media sosial. Sepertinya orang yang dibenci itu tidak ada satupun yang benar semuanya keliru dan celakanya ada orang mengkritik keras kebijakan Presiden kita tentang infrastruktur tapi yang bersangkutan melenggang lewat tol tanpa sedikitpun rasa bersalah.
Mari kita bedakan dulu penyakit hati ini . Penyakit hati dalam dunia medis merupakan penyakit yang terdapat pada organ hati sehingga dapat merusak organisme manusia, dan hal itu dapat mengganggu dalam kehidupan dan juga menyebabkan terjadinya perubahan fisik pada sel atau jaringannya.
Sedangkan yang dimaksud penyakit hati dalam tulisan ini adalah penyakit yang terdapat pada hati manusia yang bersifat buruk dan dapat merusak diri sendiri dan orang lain. Manusia pada dasarnya memiliki sisi baik dan buruk yang ada pada dirinya, dan hal itu merupakan hal yang wajar karena tidak ada di dunia yang sempurna kecuali Rasulullah SAW.
Namun, sisi buruk yang ada pada dalam diri seseorang lambat laun akan merusak sisi baik yang ada. Islam mengajarkan kepada manusia melalui kalam-Nya untuk membersihkan atau menyucikan hati dari tumpukan kotoran yang ada di dalam hati (penyakit hati) yang ada dalam diri seseorang.
Dalam Islam sangat diperhatikan sekali akan pentingnya jiwa yang tenang dan suci pada setiap manusia, untuk bekal keberlangsungan hidup selama di dunia terlebih ketika ditimpa akan ujian dan problematika kehidupan yang tidak ada habisnya.
Apalagi menghadapi kehidupan dunia saat ini yang sudah serba maju dan modern dengan keadaan ekonomi yang relatif sulit. Oleh karena itu diperlukan tameng atau sandaran yang kokoh dan juga iman untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT dengan mengharap ridho agar selalu diberikan hati yang lapang dalam menjalani kehidupan penuh tantangan, ujian dan cobaan bagi diri manusia.
Penyakit hati adalah gangguan yang ada pada hati dan perasaan seseorang. Dalam Islam, penyakit hati yang ada pada setiap orang dapat mempengaruhi perilaku dan perbuatannya. Allah SWT berfirman terkait penyakit hati dalam surat At Taubah ayat 125. “Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”
Dalam salah satu hadist, syarat utama masuk surga ialah keadaan hati yang bersih, yang tidak dikotori dengan berbagai macam penyakit hati. Dengan demikian bisa dikatakan manusia yang mempunyai hati, tetapi tidak dipakai untuk memahami, maka hatinya tergolong hati yang lalai.
Sebaik-baiknya hati adalah hati yang mampu mendorong dan menerima agama untuk diamalkan, hati yang seperti ini disebut dengan hati yang hidup (Qalbul hayyah), karena masih menampakkan fungsi dari hati yang sesungguhnya, yaitu memahami dan menerima kebenaran, sementara hati yang mati disebut Qalbul Mayyitah.
Dr. HM. Zainuddin, MA., mengatakan ada beberapa penyakit hati yang harus dijauhi dan dihindari yaitu: ananiah (egois), gibah, naminah , riya (pamer), ujub (membanggakan diri), hasad (dengki),takabur dan ghadab (pemarah) . Hati merupakan unsur yang sangat berarti bagi diri manusia, Rasulullah SAW memperingatkan kepada kita:“ Ketahuilah, didalam tubuh manusia ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, baiklah tubuh seluruhnya, dan apabila daging itu rusak, rusaklah tubuh seluruhnya. Ketahuilah olehmu, bahwa segumpal daging itu adalah qalbu (hati)” (H.R. Bukhari).
Berikut berbagai penyakit hati yang sebaiknya dijauhi dan dihindari oleh kaum muslim, diantaranya :
Ananiah adalah sikap seseorang yang selalu mementingkan diri sendiri tanpa memperdulikan orang lain di sekitarnya. Sifat ini sangat tercela, dan membahayakan di dalam pergaulan di masyarakat.
Ananiah termasuk penyakit hati, dan akan berkembang menjadi penyakit egois, sombong, dan iri. Penyakit ini akan menghinggapi siapa saja tidak pandang itu orang awam, terdidik, atau berpangkat. Penyakit ananiah akan mendatangkan kerugian bagi dirinya sendiri, antara lain: tidak dipedulikan orang lain, bahkan dibenci. Cara menghindari penyakit tersebut adalah dengan menyadari bahwa manusia mempunyai hak dan martabat yang sama, dan menyadari bahwa perbuatan ananiah termasuk perbuatan dosa.
Gibah ialah membicarakan aib orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang artinya :“Tahukah kamu, apakah menggunjing itu? “Sahabat berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Lalu Nabi bersabda : “Yaitu kamu menceritakan tentang saudaramu mengenai hal-hal yang dibencinya. Kemudian sahabat bertanya lagi: “Bagaimana, jika yang saya katakan itu sebetulnya terdapat pada saudara tersebut ?
Nabi menjawab: “Jika yang kamu katakan itu ada padanya, berarti kamu telah menggunjingnya, dan jika tidak seperti apa yang kamu katakan itu, sungguh kamu telah berbuat dusta tentang dirinya (kamu telah memfitnah). (H.R. Muslim, Abu Daud, Tirmizi dan Nasa’i).
Dalam Al Quran surah Al Hujurat : 12 dijelaskan:“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa, dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.
Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.
Di dalam ayat tersebut diibaratkan, bahwa orang yang ghibah itu seperti makan daging bangkai saudaranya sendiri. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Hadis Nabi :“Dari Jabir dan Abu Sa’id mereka berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda: Jauhilah olehmu sifat ghibah karena ghibah itu lebih besar dosanya dari pada zina.
Ditanyakan kepada Rasul “bagaimana bisa?” Rasulullah menjawab: seorang laki-laki berzina kemudian bertaubat Allah akan mengampuni kepadanya dan orang yang mempunyai sifat ghibah Allah tidak akan mengampuninya sehingga temannya mau mengampuninya.
Jadi dosa gibah tidak akan diampuni oleh Allah sebelum orang lain (yang digunjing) mau mengampuninya. Dosa kepada Allah mudah untuk minta ampun, sedangkan dosa terhadap orang lain Allah SWT belum mau mengampuni jika belum meminta maaf kepada orang yang bersangkutan.
Bahaya sifat gibah antara lain, menimbulkan rasa permusuhan dengan orang lain, memutuskan persaudaraan di kalangan manusia dan menimbulkan perbuatan fitnah.
Namimah artinya adu domba yaitu usaha untuk membuat orang lain saling bermusuhan. Sikap namimah sangat dibenci Islam, karena dapat membuat persaudaraan menjadi pecah sehingga dapat melumpuhkan (melemahkan) kekuatan persaudaraan (ukhuwwah). Orang yang mempunyai sifat namimah tidak akan masuk surga seperti dijelaskan dalam hadist, Rasulullah SAW bersabda: “tidak akan masuk surga orang yang suka adu domba”. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Selanjutnya Rasullullah SAW menambahkan “Yang amat dicintai Allah SWT ialah yang terbaik akhlaknya, yang dermawan lagi gemar menjamu orang, yang dapat menyesuaikan diri lagi dapat diikuti penyesuaian dirinya itu, sedang yang amat dibenci di sisi Allah SWT ialah orang-orang yang suka berjalan dengan berbuat adu domba, yang memecah belah antara saudara-saudara, lagi pula mencari-cari alasan untuk melepaskan diri dari kesalahan-kesalahan”. (H.R. Ahmad).
Riya merupakan salah satu perbuatan tercela dalam Islam. Orang yang melakukan riya umumnya melakukan amal soleh bukan karena Allah SWT. Perilaku ini harus dijauhkan sebab orang yang melakukan riya tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT atas perbuatan amal solehnya.
Hasad dan Husud (Iri Dengki) artinya tidak senang dengan apa yang dimiliki orang lain, sedangkan dengki adalah bentuk amarah dari rasa iri tersebut. Perilaku ini harus dihindari karena dapat memutus tali persaudaraan antar umat Muslim.
Takabur adalah perasaan yang menilai diri sendiri lebih tinggi dibanding orang lain. Perilaku seperti ini umumnya muncul saat seseorang dititipkan harta, jabatan, wajah rupawan atau kepandaian dari Allah SWT.
Ujub (Merasa Soleh) , Ujub merupakan perasaan yang membanggakan diri sendiri dalam beribadah. Sebaiknya sifat ini dihindari karena dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan pahala ibadah seseorang dan mendorong sifat sombong.
Ghadab (Pemarah), sifat ini dimiliki seseorang yang sulit mengontrol emosinya sehingga nalarnya tidak dapat berfungsi dengan baik. Bukan hanya dibenci oleh sesama manusia, sifat pemarah juga amat dibenci Allah SWT.
Sekarang bagaimana menghindari dan menjauhi berbagi penyakit hati tadi diantaranya dapat dilakukan dengan amal-amal batiniah (akhlak-akhlak mulia) , taubat, khauf (rasa takut), zuhud, sabar, syukur, ikhlas dan jujur, tawakal, cinta Allah SWT, rida kepada qadha dan mengingat kematian.
Mengutip buku Terapi Penyakit Hati oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dijelaskan bahwa secara keseluruhan, Al-Qur’an adalah syifa atau penyembuh berbagai penyakit hati oleh karena itu secara rutin membaca dan mempelajari Al Quran, insya Allah Anda akan merasa tenang dan baraqah dan akan dihindari dari berbagi penyakit hati.*
*Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM
.




