SATUMEDIA.ID – Membaca buku walau e-book – Sirah 65 Sahabat Rasulullah SAW yang berisi kisah kehidupan dan perjuangan 65 sahabat Rasulullah SAW, menjadi pilihan menarik untuk dikemukakan sejalan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Buku ini ditulis oleh DR. Abdurrahman Ra’fat al-Basya, dengan judul asli: Shuwar min Hayatlsh Shahabah 65 Syakhahlyyah. Mengutip sabda Rasulullah SAW : ”Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku, kemudian manusia yang hidup pada masa berikutnya,kemudian manusia yang hidup pada masa berikutnya.”(HR. al-Bukhari dan Muslim).
Kita mulai dengan sahabat yang dibuku ini dijelaskan nomor pertama yaitu Anas bin Malik masih dalam usia belia saat ibunya yang bernama Al Ghumaisha mengajarkan kepadanya syahadatain (dua kalimat syahadat). Al-Ghumaisha mengisi hati Anas untuk mencintai Sang Nabi pembawa ajaran Islam yang bernama Muhammad bin Abdillah ‘alaihi afdhalus shalati wa azkas salam.
Baru saja Rasulullah SAW hendak tinggal dan menetap di Madinah, datanglah Al-Ghumaisha’ binti Milhan, ibunya Anas, menghadap beliau. Al-Ghumaisha membawa anaknya yang masih kecil yang diajak untuk menghadap Rasulullah SAW. Saat itu Anas berambut poni dengan uraian rambut kecil yang bergerak ke kanan dan ke kiri menutupi keningnya.
Lalu Al-Ghumaisha memberikan salam kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah… tidak ada seorang pria clan wanita pun dari suku Anshar yang menghadapmu kecuali mereka memberikan hadiah kepadamu. Aku tidak memiliki apa-apa untuk dijadikan hadiah selain anak ini saja…. Ambillah ia dan jadikanlah ia pembantu sesuka hatimu! Rasulullah SAW gembira mendengarnya. Beliau pun menerima Anas dengan wajah yang sumringah.
Beliau membelai kepala Anas dengan tangan beliau yang mulia. Beliau juga membelai rambut poni Anas dengan jari beliau yang lembut. Akhirnya Rasulullah SAW menerima Anas menjadi anggota keluarganya. Anas mendampingi Rasulullah SAW selama 10 tahun, di mana ia mendapatkan petunjuk langsung dari beliau untuk mensucikan dirinya.
la juga menerima seluruh hadits Rasulullah SAW sehingga memenuhi ruang dadanya. Anas juga mengetahui kondisi, cerita, rahasia dan kebiasaan terpuji beliau yang jarang diketahui oleh orang lain.
Anas bin Malik berkata: Rasulullah SAW adalah manusia yang paling baik akhlaknya, beliau adalah manusia yang paling lapang dada dan beliau adalah manusia yang paling penyayang ….Beliau pernah menyuruhku untuk membeli sesuatu dan aku pun keluar untuk membelinya.
Di tengah jalan, aku berniat untuk bermain bersama para anak-anak di pasar dan aku tidak melakukan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW kepadaku. Saat aku sudah bertemu dengan anak-anak tadi,aku merasakan ada seorang pria yang berdiri di belakangku, dan ia menarik bajuku…. Aku menoleh ke belakang, ternyata ia adalah Rasulullah SAW.
Beliau tersenyum seraya berujar, “Wahai Unais, apakah kau sudah melakukan apa yang aku suruh?” Aku menjadi grogi dan berkata, “Baik … aku akan melakukannya sekarang, ya Rasulullah…:’
Sahabat yang kedua yakni Seorang pemuda bernama Sa’id bin Amir al-Jumahi adalah salah satu dari ribuan orang mualaf yang datang dari daerah Tan’im daerah luar Makkah demi memenuhi undangan para pemuka Quraisy untuk menyaksikan pembunuhan Khubaib bin Adi, salah seorang sahabat Muhammad setelah mereka berhasil menangkap Khubaib dengan cara menipunya.
Jiwa muda dan kekuatan yang dimilikinya membuat Sa’id mampu menerobos kumpulan manusia saat itu, sehingga ia dapat berdiri sejajar dengan para pemuka Quraisy seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah clan lainnya yang menyaksikan pemandangan saat itu. Kesempatan itu membuat Sa’id dapat melihat para tawanan suku Quraisy yang sedang terikat.
Tangan para wanita, anak-anak dan pemuda mendorong tubuh Said masuk ke arena pembunuhan, di tempat para suku Quraisy melakukan balas dendam kepada Muhammad lewat diri Khubaib, dan sebagai balasan dari para anggota suku Quraisy yang mati dalam Perang Badar. Saat kerumunan yang sesak itu sampai ke tempat pembunuhan dengan membawa tawanan, berdirilah pemuda yang bernama Sa’id bin Amir al Jumahi dengan tegaknya di hadapan Khubaib.
Ia menyaksikan Khubaib berjalan ke arah kayu yang telah dipancangkan. Sa’id mendengar suara Khubaib yang tenang di antara jeritan dan teriakan para wanita dan anak anak. Khubaib berkata, “Dapatkah kalian mengizinkan aku untuk melakukan shalat dua rakaat terlebih dahulu…. ?” Lalu Sa’id memperhatikan Khubaib saat ia menghadap kiblat dan melakukan shalat dua rakaat. Betapa bagus dan sempurna dua rakaat shalat yang dikerjakannya.
Sa’id juga memperhatikan saat Khubaib menghadap para pemuka Quraisy seraya berkata, “Demi Allah, kalau kalian tidak menduga bahwa aku akan memperpanjang shalat karena merasa takut mati, pasti aku akan memperbanyak bilangan shalat tadi: Sa’id menyaksikan kaumnya dengan kedua mata kepalanya saat mereka memotong bagian tubuh Khubaib yang masih hidup.
Mereka memotong setiap bagian tubuh Khubaib sambil berkata kepadanya, ”.Apakah kau ingin Muhammad menggantikan posisimu ini dan engkau akan selamat karenanya?”Ia menjawab -padahal darah mengalir di sekujur tubuhnya-, “Demi Allah, aku lebih suka menjadi pengaman dan meninggalkan istri dan anakku, daripada Muhammad ditusuk dengan duri: Maka semua manusia yang hadir saat itu mengacungkan tangan mereka ke langit, seraya berteriak sengit, “Bunuh dia… bunuh dial”.
Lalu Sa’id bin Amir menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Khubaib mengangkat pandangannya ke langit dari atas tiang kayu seraya berdoa, “Allahumma ahshihim ‘adadan, waqtulhum badadan, wala tughadir minhum ahadan (Ya Allah, hitunglah satu demi satu mereka semua. Bunuhlah mereka secara kejam. Janganlah kau sisakan satu orang pun dari mereka).”
Khubaib pun menghembuskan napasnya yang terakhir.
Pada tubuhnya banyak sekali bekas Iuka pedang clan tombak yang tidak bisa dihitung manusia. Suku Quraisy telah kembali ke Makkah, clan mereka semua sudah lupa akan bangkai tubuh clan proses pembunuhan Khubaib. Akan tetapi dalam diri seorang pemuda yang hampir baligh yang bernama Sa’id bin Amir al Jumahi, bayangan Khubaib tidak pernah hilang sesaat pun.
Sa’id sering kali melihat Khubaib di kala tidur. Saat terjaga pun, Sa’id sering melihatnya dengan ilusi. Tergambar di benak Sa’id saat Khubaib melakukan salat dua rakaat yang begitu tenang clan nikmat di depan kayu yang terpancang. Sa’id mendengar getaran suara Khubaib di telinganya saat Khubaib berdoa untuk kehancuran suku Quraisy.
Sa’id menjadi khawatir terkena petir dibuatnya, atau takut terkena hujan batu yang jatuh dari langit karenanya. Lalu Khubaib seperti telah mengajarkan Sa’id apa yang belum diketahui sebelumnya…. Khubaib mengajarkannya bahwa hidup yang sesungguhnya adalah akidah clan jihad di jalan akidah hingga mati. Khubaib mengajarkannya bahwa iman yang mantap akan menimbulkan banyak keajaiban clan mukjizat. Khubaib juga mengajarkannya hal lain, yaitu bahwa pria yang dicintai oleh para sahabatnya dengan cinta seperti ini tiada lain adalah seorang Nabi yang didukung oleh langit.
Pada saat itu pula, Allah SWT melapangkan dada Sa’id bin Amir untuk memeluk Islam. Maka ia berjalan menghampiri kerumunan manusia clan mengumumkan keterlepasan dirinya dari perbuatan dosa yang telah dilakukan suku Quraisy, clan ia berikrar akan meninggalkan segala berhala yang pernah disembahnya clan ia mengumumkan bahwa ia telah masuk Islam.
Sahabat Rasulullah SAW yang ketiga adalah Ath-Thufail bin Amr ad-Dausi adalah pemimpin kabilah Daus pada masa Jahiliyah. Dia adalah salah satu sosok pemuka Arab yang berpengaruh,clan salah seorang tokoh yang terhormat.
Tungku tidak pernah diturunkan dari perapian baginya, dan tidak ada pintu yang tertutup baginya.Ia gemar memberi makan orang yang lapar, memberi rasa aman bagi orang yang ketakutan dan melindungi orang yang memohon perlindungan. Ditambah lagi dia adalah sosok yang beradab, cerdas dan pintar. Ia adalah seorang penyair yang memiliki perasaan yang peka dan lembut. Dia amat mengerti dengan manis dan pahitnya pembicaraan. . . sehingga kalimat yang diucapkannya mengandung bobot magis bagi yang mendengarnya.
Ath-Thufail meninggalkan rumah tinggalnya di Tihamah menuju Makkah. Kala itu pergumulan masih terus berlangsung antara Rasulullah SAW dengan para kafir Quraisy. Masing-masing pihak membutuhkan pendukung dan sahabat. . . .Rasulullah SAW berdoa kepada Tuhannya dan yang menjadi senjata beliau adalah keimanan dan kebenaran. Sedangkan kafir Quraisy menentang dakwah Rasulullah SAW dengan segala jenis senjata, dan mereka berusaha menghalangi manusia dari beliau dengan cara apa pun. Ath-Thufail mendapati dirinya telah berada dalam peperangan itu tanpa persiapan apa pun dan ia turut serta di dalamnya tanpa sengaja.
Ia tidak datang ke Makkah dengan tujuan ini, dan tidak ada dalam benaknya urusan Rasulullah SAW dan Quraisy. Dari sini maka dimulailah sebuah hikayat yang tak pernah terlupakan bagi Ath-Thufail bin Amr ad-Dausi. Mari kita simak kisah ini, karena ia adalah sebuah kisah yang aneh.
Ath-Thufail mengisahkan: Aku tiba di Makkah. Begitu para pemimpin Quraisy melihatku,mereka mendatangiku dan mereka menyambutku dengan begitu mulia.Mereka memposisikan diriku dengan begitu terhormat.
Lalu para pemimpin dan pembesar mereka berkata kepadaku, “Wahai Thufail. Engkau telah datang ke negeri kami. Sesungguhnya di sini ada seorang yang mengaku bahwa ia adalah seorang Nabi yang telah merusak urusan dan mencerai-berai persatuan serta jamaah kami. Kami khawatir ia dapat mengganggumu dan mengganggu kepemimpinanmu pada kaummu sebagaimana yang telah terjadi pada diri kami.
Maka janganlah engkau berbicara dengannya, dan janganlah engkau dengar apa pun darinya. Daerah pinggir laut di Jazirah Arab yang sejajar dengan Laut Merah.Ath-Thufail bin Amr ad-Dausi pembicaraannya, sebab ia memiliki ucapan seperti seorang penyihir; yang dapat memisahkan seorang anak dari ayahnya, dan seorang saudara dari saudaranya, dan seorang istri dari suaminya:’Ath-Thufail berkata, “Demi Allah, mereka terus saja menceritakan kepadaku tentang keanehan kisah Muhammad. Mereka membuat diriku dan kaumku menjadi takut dengan keajaiban perilaku Muhammad.
Sehingga aku pun bertekad untuk tidak mendekat kepadanya, dan untuk tidak berbicara atau mendengar apa pun darinya.Saat aku datang ke masjid untuk berthawaf di Ka’bah, dan mengambil berkah dengan para berhala yang ada di sana sebagaimana kami melakukan haji kepadanya untuk mengagungkan berhala-berhala tadi, aku pun menutup telingaku dengan kapas karena khawatir telingaku mendengar sesuatu dari perkataan Muhammad.
Tapi begitu aku masuk ke dalam masjid, aku mendapati ia sedang berdiri melakukan shalat dekat Ka’bah bukan seperti shalat yang biasa kami lakukan. Ia melakukan ibadah bukan seperti ibadah yang biasa kami kerjakan. Aku senang melihat pemandangan ini. Aku menjadi tercengang dengan ibadah yang dilakukannya. Aku mulai mendekat kepadanya. Sedikit demi sedikit tanpa disengaja sehingga aku begitu dekat dengannya….Kehendak Allah berbicara lain sehingga ada beberapa ucapannya yang hinggap di telingaku.
Aku mendengar pembicaraan yang baik. Dan aku berkata dalam diri sendiri, “Celaka kamu wahai Thufail… engkau adalah seorang yang cerdas dan seorang penyair. Engkau dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk. Lalu apa yang menghalangimu untuk mendengar apa yang diucapkan orang ini…. ? Jika yang dibawa olehnya adalah kebaikan, maka akan aku terima. Jika itu adalah keburukan, maka akan aku tinggalkan. Kemudian ath-Thufail tetap berada di sana hingga Rasulullah SAW pergi dari Baitullah. Ia pun membuntutinya sampai ke rumahnya.
Ketika ia masuk rumah, ia pun ikut masuk, lalu berkata, “Ya Muhammad, kaummu telah menceritakan kepadaku tentangmu semuanya. Demi Allah, mereka selalu menakut-nakutiku dengan perbuatanmu sehingga aku menutup telingaku dengan kapas agar tidak mendengar perkataanmu.
Tetapi Allah tetap memperdengarkan ucapanmu ke telingaku. Dan aku mendengar sesuatu yang baik, maka katakanlah semuanya kepadaku.”Lalu Muhammad SAW pun mengatakan semuanya, beliau membacakan surah al-Ikhlas dan al-Falaq. Demi Allah, ath-Thufail telah mendengar perkataan yang lebih baik daripada perkataannya dan ia tidak melihat suatu urusan pun yang lebih adil daripada urusannya.
Ketika itu, ia membentangkan telapak tangan kepadanya dan bersaksi bahwa tiada ilah (tuhan) melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan ia pun memeluk Islam.*
*Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM.
.




