SATUMEDIA.ID – Al Quran adalah penawar sesuai firman Allah SWT , “Dan Kami turunkan dari Al-Quran (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Quran itu) hanya akan menambah kerugian” (QS Al-Isrâ’: 82). Katakanlah, “Al-Quran adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman” (QS Fushshilat : 44).
Seorang ulama menyikapi Al Quran sebagai penawar dan petunjuk dengan mengatakan, “Sesungguhnya kitabullâh yang agung (Al-Quran) merupakan obat penyakit stres, penenteram jiwa, obat penyakit hati, dan cahaya bagi segala kegelapan. Bahkan, ia juga penangkal segala duka, pencipta kehidupan sejahtera yang tak akan tergoyahkan sepanjang masa oleh berbagai syak wasangka, dan tidak akan tergeser oleh badai kebingungan.”
Memang benar Al Quran adalah syifâ’ (penawar). Sebuah penelitian di Florida membuktikan, terjadi perubahan fisiologis yang besar, baik bagi orang yang bisa berbahasa Arab atau yang tidak, setelah mendengar bacaan Al Quran.
Perubahan itu adalah penurunan depresi, kesedihan, penyakit, bahkan perolehan ketenangan. Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa Al-Quran berpengaruh hingga 97% dalam memberikan ketenangan dan penyembuhan penyakit. Subhanallâh .
Bagi seorang mukmin, Al Quran adalah bacaan yang mulia. Membacanya berarti berzikir atau mengingat Allah, dan mengingat Allah akan membuat hati dan jiwa tenang. Mengenai jiwa dan hati yang tenang, penelitian Efa Naila Hady dan Ratna Djuwita menyatakan bahwa zikir kepada Allah memiliki efek menenangkan.Salah satu nama Al Quran adalah asy-Syifa yang berarti obat penyembuh.
Hal ini seperti diutarakan As-Sa’di dalam kitabnya, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan, bahwa Al-Quran adalah penyembuh bagi semua penyakit hati. Baik berupa syahwat yang menghalangi manusia untuk taat kepada syariat atau syubhat yang mengotori iman.
Para ulama berbeda pendapat mengenai maksud dari kata “syifa’ / obat” dalam surat Al-Isra ayat 82 tadi diatas. Pendapat pertama mengartikan obat dalam ayat tersebut sebagai obat yang berkenaan dengan penyakit hati, menghilangkan tirai kebodohan dan menghapus keraguan akan kebesaran tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Pendapat kedua, Al Quran sebagai obat penawar penyakit lahir seperti sakit kepala, infeksi dan lain sebagainya.
Berikut ini beberapa argumen yang menguatkan pendapat kedua.Pertama, hadits-hadits Nabi tentang berobat dengan ayat Al Quran. Terdapat sejumlah hadis yang menjelaskan ihwal berobatnya Rasulullah SAW dengan menggunakan ayat Al-Qur’an.
Di antaranya hadis riwayat at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Nasai, bahwa mula-mula Rasulullah SAW melindungi diri dari segala penyakit dan serangan musuh dengan bacaan ta’awwudz dan beberapa kalimat dzikir. Namun setelah turunnya surat al-Falaq dan al-Nas, beliau mencukupkan dengan kedua surat tersebut dan meninggalkan selainnya.
Sahabat Abu Sa’id al-Khudri pernah menyembuhkan seseorang yang terkena sengatan ular dengan bacaan ayat “Alhamdu lillahi Rabbil ‘alamin” sebanyak tujuh kali.
Kedua, berdasarkan kaidah ushuliyyah kaidah yang populer di kalangan pakar ushul fiqh mengatakan:“Pembicaraan apabila memungkinkan mengarah kepada pengukuhan (substansi yang sudah pernah disampaikan) atau mendasari (substansi baru yang belum pernah tersampaikan), maka mengarahkannya kepada yang kedua adalah lebih unggul”.
Dalam konteks ini, mengarahkan QS al-Isra’ ayat 82 kepada obat penyakit lahir lebih utama sebagai informasi baru yang belum pernah disampaikan sebelumnya. Hal ini lebih baik ketimbang mengarahkannya kepada pemahaman Al-Quran sebagai obat penyakit batin yang sudah banyak dijelaskan ayat-ayat lain.
Ketiga, berdasarkan kaidah nahwiyyah.Dalam ayat di atas, kata “syifa’; obat” dan “rahmat” dirangkai jadi satu dengan penghubung huruf ‘athaf yakni “wawu (yang secara literal merupakan kata sambung yang bermakna “dan”). Rahmat yang dimaksud dalam ayat mencakup obat dari segala penyakit hati.
Dalam kaidah ilmu nahwu, penggabungan satu kata dengan yang lain dengan penghubung huruf athaf wawu menunjukan perbedaan makna kedua kata tersebut. Bila kata “rahmat” diartikan obat penyakit batin, seharusnya kata “syifa’, obat” diartikan sebagai obat penyakit lahir, agar keduanya menunjukan arti yang berbeda sebagai pengamalan dari kaidah nahwu di atas.
Keempat, berdasarkan kaidah Manthiqiyyah-silogisme. Berdasarkan fakta yang berulang kali teruji kebenarannya dari sejak masa Rasulullah SAW , Sahabat, Tabi’in hingga kurun setelahnya,menunjukan bahwa Al-Quran dapat mengobati penyakit racun,gila, luka dan penyakit lahir lainnya.
Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Zad al-Ma’ad, menjelaskan, Al Quran adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan akhirat. Tidak setiap orang diberi keahlian dan taufik untuk menjadikannya sebagai obat. Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kukuh, dan menyempurnakan syaratnya, niscaya penyakit apa pun tidak akan mampu menghadapinya. Kepada sahabat yang sakit, Nabi kerap kali berpesan, bagi kalian ada obat penyembuh, yakni madu dan Al Quran. (HR Ibnu Majah dan al-Hakim).
Sebagai asy-Syifa, orang beriman diimbau banyak membaca Al Quran, karena ia adalah obat penyembuh. Dewasa ini banyak sekali disrupsi informasi yang terkadang menimbulkan penyakit hati diantara masyarakat, apalagi dengan pesatnya perkembangan teknologi, seseorang bisa saja lupa dalam mengontrol diri mereka ketika sudah masuk ke dalam dunia digital khususnya dalam interaksi sosial.
Maka dari itu, sudah sepatutnya sebagai umat muslim untuk tetap menggali dan pesan ayat-ayat Al Quran agar generasi milenial senantiasa khidmat, memegang teguh dan mengimaninya sebagai sebuah pedoman kehidupan sehari-hari baik di dalam kehidupan sehari-hari maupun di lingkungan yang lebih luas. Selain menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia, menanamkan kecintaan terhadap Al Quran secara utuh mampu menjadi obat penawar (syifa) penyakit hati, dimana penyakit ini sengat berpengaruh besar terhadap perkembangan kondisi fisik dan mental seseorang.
Maka dari itu ketika merasa galau, sedih, depresi dan bagi siapa-pun yang mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya untuk kembali mendekatkan diri dengan Al Quran.
Dr. Ahsin Sakho menambahkan apabila Al-Quran sendiri merupakan representasi dari sang pencipta, dimana perannya hadir di dunia ini menjadi anugerah sekaligus petunjuk kepada insan manusia. Bagi siapa yang sering melakukan interaksi dengan Al Quran maka Allah akan memberikan penghargaan, menaikkan derajatnya, dan melalui petunjuk itulah kemudian seseorang akan mendapatkan jalan menuju ketaqwaan.
Dengan ketaqwaan terhadap Al Quran tersebut nantinya akan memberikan solusi jalan keluar (makhraj) dari segala permasalahan serta mendatangkan rezeki yang tidak disangka-sangka. Hal ini menjadi pengingat bagi kita sebagi muslim agar tetap menjaga Al Quran sebagai dasar prinsip belajar, bersosial maupun bernegara, sehingga kelak mereka menjadi seorang pemimpin, sifat-sifat akan amanah dan takut kepada Allah SWT akan terus melekat kepadanya, bersama-sama mengamalkan Al-Quran di segala sendi-sendi kehidupan.
“Jadikanlah Al-Quran sebagai sahabat karibmu, teman dudukmu, bacaan harianmu di kala senang maupun susah. Al-Quran akan selalu menjadikanmu teman setia dari dunia hingga akhirat nanti.
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti mengatakan Al-Quran dikatakan sebagai obat penawar atau penyembuh itu karena pembacanya bertawakal penuh kepada Allah yang telah menurunkan Al Quran. Sehingga ia memohon hanya kepada Allah atas kesembuhan segala penyakitnya.
“Al Quran disebut sebagai syifa’, obat bagi segala macam (penyakit) yang ada di dalam dada. Karena itu kalau orang itu beriman, kalau dibacakan ayat-ayat Allah mereka bertambah-tambah imannya. Hati kita menjadi tenang dan tenteram,” .
Selanjutnya dikatakan bahwa salah satu bentuk obat itu adalah adanya berbagai nasihat yang terkandung di dalam Al-Quran sebagaimana dijelaskan oleh ayat ke-57 Surat Yunus yang artinya,“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu mauidhah (pelajaran) (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.”“Artinya kita ini menjadi sehat secara ruhaniyah kalau kita ini senantiasa dekat dan membaca Al Quran”.
“Kalau kita dekat dengan Alquran, hati kita menjadi tenang. Hidup kita senantiasa dibimbing. Tapi yang lebih penting, Quran itu mauidhah. Maka kita diingatkan kalau berduka jangan lupa diri. Begitu pula kalau bahagia”.
Agar Al Quran menjadi obat, hendaknya Al-Quran itu harus dibaca sesuai hukum tajwid, tartil, dan memahami tafsirnya. Memahami tafsir bisa dilakukan dengan dua cara yakni bil ma’tsur maupun bil ra’yi. Bil ma’tsur yakni tafsir yang berangkat dari periwayatan ayat dan hadist. Sedangkan bil ra’yi adalah dengan disiplin ilmu seperti sejarah, fisika, biologi, dan lain sebagainya.Oleh karena itu Al Quran bisa jadi petunjuk kalau kita mengerti isinya. Maka kita juga harus baca tafsir Al Quran.
*Penulis Dede Supriatna alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM




