SATUMEDIA.ID – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional II mengungkapkan, lahan perkebunan teh yang dijadikan lokasi Eiger Camp di Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB) sudah lama tidak produktif.
Pernyataan itu disampaikan Region Head PTPN I Regional II, Desmanto di sela peninjauan Komisi I dan III DPRD Kabupaten Bandung Barat (KBB), serta DPRD Provinsi Jawa Barat, dan OPD terkait ke lokasi pembangunan Eiger Camp di Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Jumat (11/4/2025).
Dihadiri Direktur EIGER Adventure, Imanuel Wirajaya, Region Head PTPN 1 Regional 2, Desmanto, Komisi I DPRD Jawa Barat, Turimayanti, Ketua Komisi I DPRD KBB, Sandi Supyandi, Ketua Komisi III DPRD KBB, Pither Tjuandys, dan anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Tuti Turimayanti.
“Tanaman di kawasan ini sudah ada sejak tahun 1950. Artinya, sudah berusia 70 hingga 80 tahun, bahkan ada yang 100 tahun. Karena usia tanamnya sudah tua, Ada beberapa tanaman yang kurang baik dan yang baik kita jaga seperti di kawasan bawah. Untuk kawasan tanaman yang tidak produktif kita lakukan kerja sama,” tutur Desmanto.
Dijelaskannya, tidak semua tanaman itu sama, ada beberapa yang kosong dan mati. Bahkan tinggi tanaman teh yang tidak produktif ada yang mencapai 5-8 meter.
Dikatakannya, luas areal perkebunan teh Sukawana itu 250 hektare dimana area yang dikerjasamakan ini sekitar 48 hektare dan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) baru 1,45 persen.
“Lahan kebun teh ini, dulunya gundul dan sekarang sudah ada tanaman. Perusahaan dapat, negara juga dapat. Jadi itulah upaya kita melakukan optimalisasi lahan. Sebelumnya, ketika tidak produktif, tidak pernah mendapatkan apapun dan ketika dilakukan kerja sama dengan Eiger kawasan tersebut bisa dibangun kembali,” paparnya.
Kerja sama antara PTPN I Regional II dengan PT Eiger dimulai sejak 2021 dan bakal berakhir pada tahun 2026. Namun, saat ini tengah dalam proses perpanjangan perjanjian.
“Dasar kerja sama tersebut adalah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 50 Tahun 2011 yang menyatakan bahwasanya pengembangan strategis pariwisata nasional Tangkubanparahu dan sekitarnya.
Ini (Eiger Camp) masuk kawasan itu. Jadi dasar kita mengembangkan kawasan wisata di sini yakni bekerjasama dengan Eiger,” jelasnya.
Menurutnya, alasan harus dikerjasamakan
dalam rangka mengoptimalkan aset PTPN yang ada lantaran tidak semua tanaman dalam kondisi baik.
“Dengan adanya kerja sama ini, perkebunan yang dulunya rugi lantaran tak semua tanaman baik sekarang sudah bisa berbenah karena BUMN ini juga untuk masyarakat.Pendapatan yang diterima dipergunakan untuk perbaikan tanaman, kewajiban perusahaan dan karyawan,” sebutnya.
Site plan
Sementara itu, dalam tinjauan ke lapangan tersebut, DPRD menemukan adanya ketidaksesuaian site plan dari salah satu proyek yang rencananya bakal dibangun untuk Decking View Panggung Budaya Eiger Camp dengan luas lahan 1.200 meter.
Ketua Komisi III DPRD KBB, Pither Tjuandys
menerangkan, perusahaan sudah mengantongi semua perizinan yang diproses melalui Online Single Submission atau OSS.
“Keluarlah Nomor Induk Berusaha (NIB) dan syarat-syarat yang harus dilengkapi. Termasuk, jalan masuk, kajian lingkungan dan pengesahan site plan sesuai dengan yang dikerjakan.Sudah sesuai dengan tahapan dan disahkan oleh Rahmat Adang Syafaat yang saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas PUTR KBB,” kata Pither.
“Ditindaklanjuti bagian perizinan dengan mengeluarkan produk yang namanya Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) sebanyak 14 PBG. Hanya saja yang menjadi persoalan saat ini terletak pada pelaksanaan di lapangan, yakni ketidaksesuaian site plan,” tuturnya.
Menurut politisi Partai Demokrat ini, jika ada kesalahan yang dilakukan oleh pengembang, maka harus dilakukan perbaikan untuk merevisi.
“Jika hal itu diperkenankan, karena kita ingin memastikan dinas bertanggung jawab atas izin yang diberikan,” tandasnya seraya menambahkan, KBB membutuhkan banyak investor untuk bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Ketua Komisi I DPRD KBB, Sandi Supyandi menambahkan, pentingnya antisipasi bencana dalam proyek Eiger Camp seperti penanganan larian air (run off) agar tidak menimbulkan bencana banjir ke Cekungan Bandung.
“Tentunya antisipasi bencana dampak dari pembangunan ini mesti dilakukan. Karena. proyek berada di Kawasan Bandung Utara atau (KBU).Yang penting implementasi dari perencanaan Zero Run Off. Kalau saya lihat memang sebagian sudah dilakukan. Ini penting dilaksanakan serius,” tandas Sandi.
Di tempat yang sama, Direktur EIGER Adventure, Imanuel Wirajaya mengakui, bahwa lokasi yang menjadi Eiger Camp sekarang berbeda dengan site plan. Ketidaksesuaian site plan proyek Eiger Camp terpaksa dilakukan dengan niat perlindungan tanaman teh masih produktif.
“Ternyata lokasi awal itu, tanaman tehnya masih produktif sehingga kami memindahkan ke lokasi yang sudah tidak produktif. Kami bakal mematuhi seluruh rekomendasi pemerintah terkait proyek Eiger Camp. Termasuk perubahan dokumen site plan yang saat ini tahapannya sedang berproses,” tandasnya.*





