Cimahi Bersiap Bangun Underpass Panjang 500 Meter di Jalur Gatot Subroto

Ilustrasi underpass.(Pixabay).**

SATUMEDIA.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi mulai menyiapkan kebutuhan lahan pendukung untuk pembangunan underpass di Jalan Gatot Subroto. Proyek strategis yang diinisiasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat ini disebut sebagai upaya mengurai kemacetan yang kian parah di kawasan tersebut.

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Cimahi, Achmad Nuryana, mengatakan Pemkot Cimahi mendapat mandat khusus untuk menyiapkan lahan seluas total sekitar 4.200 meter persegi. Lahan tersebut diperlukan untuk membangun akses pendukung di kiri dan kanan jalur underpass.

“Kami ditugaskan untuk menyiapkan lahan pendukung. Data detail ada di provinsi, pokoknya totalnya 4.200 meter. Kiri kanan harus ada jalan,” ujar Achmad saat dihubungi, Rabu (10/12/2025).

Menurut Achmad, proyek underpass ini merupakan program prioritas Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi–Erwan Setiawan. Seluruh konstruksi akan ditangani langsung oleh Pemprov Jabar, termasuk proses lelang dan pengerjaan fisik.

Ia menyebutkan, sejumlah lahan dipastikan terdampak dan harus melalui proses pembebasan. Saat ini proses pengukuran tengah berlangsung, melibatkan berbagai pihak pemilik lahan.

“Sekarang masih pengukuran antara rencana penghitungan dari provinsi dengan pemilik lahan, dalam hal ini TNI, PT KAI, PT Telkom, dan PT Pos. Sudah klop,” katanya.

Berdasarkan perencanaan awal, underpass akan dibangun dengan panjang sekitar 480–500 meter, menghubungkan Jalan Gatot Subroto hingga kawasan Taman Kartini. Lebarnya diperkirakan mencapai 9 meter, termasuk area trotoar.

“Untuk badan jalan underpass, provinsi yang akan melaksanakan seluruh eksekusi. Kami fokus pada penyediaan lahan pendukung,” ujar Achmad.

 

Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, sebelumnya menegaskan bahwa pembangunan underpass sudah menjadi kebutuhan mendesak. Volume kendaraan di Jalan Gatot Subroto meningkat signifikan, terutama setelah beroperasinya Kereta Api Feeder untuk penumpang Kereta Cepat Whoosh rute Jakarta–Bandung.

Frekuensi perjalanan kereta api yang tinggi menyebabkan palang perlintasan lebih sering ditutup, sehingga kemacetan tak terhindarkan.

“Salah satu dasar kita membangun underpass adalah karena aturan dari Kementerian Perhubungan, tidak boleh ada perlintasan sebidang. Yang kedua, untuk mengurangi kemacetan,” kata Ngatiyana.

Selain itu, risiko kecelakaan juga meningkat seiring intensitas kereta feeder yang melintas setiap 15–30 menit.

“Ini juga untuk mengurangi risiko kecelakaan. Karena pergerakan kereta sangat sering, akhirnya kita berpikir membangun underpass,” ujar dia.

Proyek ini diharapkan menjadi solusi permanen untuk persoalan lalu lintas di pusat Kota Cimahi sekaligus meningkatkan keselamatan dan efisiensi mobilitas masyarakat.*

 

Pos terkait