Gejolak Geopolitik Picu Kenaikan Harga Plastik, Cimahi Siapkan Aturan Pembatasan

Ilustrasi kantong plastik.(Dok.Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah berdampak pada kenaikan harga bahan plastik di Indonesia, termasuk di Kota Cimahi. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan kekhawatiran bagi pelaku usaha, tetapi juga dimanfaatkan Pemerintah Kota Cimahi sebagai momentum untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, mengatakan bahwa lonjakan harga plastik dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku akibat ketegangan geopolitik di kawasan tersebut. Menurut dia, situasi ini harus disikapi dengan perubahan perilaku masyarakat menuju gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.

“Kenaikan harga plastik ini tentunya memacu kita untuk lebih giat mengkampanyekan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai,” ujar Chanifah, Senin (13/4/2026).

Ia mengimbau masyarakat untuk mulai membiasakan diri membawa tumbler dan tas belanja sendiri guna mengurangi ketergantungan terhadap kantong plastik yang harganya semakin mahal.

Tak hanya mengandalkan kesadaran masyarakat, Pemerintah Kota Cimahi juga tengah menyiapkan regulasi yang lebih tegas. DLH bersama Bagian Hukum Setda sedang merancang Peraturan Wali Kota (Perwal) tentang pembatasan penggunaan kantong plastik yang akan bersifat mengikat.

“Kebijakan ini akan memiliki kekuatan hukum, berbeda dengan sosialisasi sebelumnya yang belum mengikat,” tegasnya.

Pada tahap awal, aturan tersebut akan diterapkan secara masif di sektor ritel atau toko modern dengan menggandeng asosiasi peritel. Nantinya, ritel tidak lagi diperbolehkan menyediakan kantong plastik, baik secara gratis maupun berbayar, guna mendorong penggunaan kemasan ramah lingkungan.

“Kita akan ikat dengan aturan. Sasaran awalnya adalah ritel-ritel modern, sehingga tidak ada lagi pembagian kantong plastik, baik gratis maupun berbayar,” jelas Chanifah.

Langkah ini dinilai penting mengingat besarnya kontribusi sampah plastik terhadap timbulan sampah di Kota Cimahi. Dari sekitar 250 ton sampah yang dihasilkan setiap hari, sekitar 27 persen di antaranya merupakan sampah plastik dari berbagai jenis.

Selain membebani kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA), plastik juga menjadi ancaman serius bagi lingkungan karena sulit terurai oleh mikroorganisme tanah. Material ini dapat bertahan hingga ratusan tahun dan berpotensi mencemari tanah, air, serta masuk ke rantai makanan manusia dalam bentuk mikroplastik.

“Situasi harga plastik yang mahal ini kami harapkan menjadi titik balik agar pemakaiannya berkurang drastis demi kesehatan lingkungan kita bersama,” pungkas Chanifah.*

 

Pos terkait