Harga BBM Melonjak, Anggaran Operasional Pengangkutan Sampah KBB Hanya Cukup 7 Bulan

Ilustrasi pengangkutan sampah.(Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Anggaran operasional pengangkutan sampah di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat (KBB) tahun 2026 diperkirakan hanya akan cukup untuk 6-7 bulan. Hal itu dipengaruhi melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

“Tahun ini anggaran untuk operasional pengangkutan sampah sampai delapan bulan. Tidak sampai 12 bulan atau setahun, karena terkena efisiensi. Namun saat tahun anggaran berjalan terjadi kenaikan harga BBM nonsubsidi, tentunya ini mempengaruhi skema waktu yang telah disusun,” kata Kepala DLH KBB, Ibrahim Adji saat dihubungi, Jumat (8/5/2026).

Ia menyebut, bila harga BBM tidak mengalami kenaikan lagi diprediksi anggaran yang tadinya cukup untuk delapan bulan jadi hanya enam sampai tujuh bulan.

“Harga BBM sekarang kan masih berfluktuasi. Bisa saja kembali naik, atau malah turun ke harga semula,” sebutnya.

Adji mengungkapkan, dari 40 armada sampah yang dimiliki Bandung Barat tidak semuanya memakai BBM nonsubsidi. Ada yang menggunakan BBM subsidi khususnya truk sampah warisan Kabupaten Bandung yang sudah berusia puluhan tahun.

Terkecuali, lanjut Adji, armada sampah pengadaan baru seperti bantuan dari Pemprov Jabar memakai BBM nonsubsidi.

Seperti diketahui, jenis BBM yang mengalami kenaikan adalah jenis nonsubsidi Dexlite yang digunakan armada truk sampah. Sebelum 18 April 2026, harga Dexlite Rp14.200/liter, mengalami kenaikan Rp23.600/liter.

Kemudian pada 4 Mei 2026 naik kembali menjadi Rp26.000/liter. Sementara harga Bio solar subsidi tetap Rp6.800/liter.

“Sampai sekarang operasional pelayanan pengangkutan sampah masih berjalan normal, belum terdampak kenaikan BBM. Jika anggaran habis terpakai lebih cepat dari rencana awal, kami akan menambah anggaran dari pos biaya tidak terduga (BTT). Tentunya setelah ditetapkan darurat sampah,” tandas Adji.

Ia menambahkan, kenaikan harga BBM tidak akan mempengaruhi pelayanan pengangkutan sampah kepada masyarakat.
Pelayanan hanya akan terganggu bilamana terjadi kelangkaan BBM.

“Kami kan melakukan kerja sama dengan satu SPBU untuk pengisian BBM armada sampah. Apabila stok BBM di SPBU tersebut kosong, otomatis berpengaruh pada pelayanan. Itu artinya kami tidak bisa begitu saja mengisi BBM di tempat lain, di luar yang sudah mengikat kontrak kerja,” tandasnya.

Sementara itu, rata-rata produksi sampah KBB yang terangkut dan dibuang ke TPA Sarimukti sekitar 146,49 ton per hari atau 22,62 persen dari total produksi 654,80 ton per hari.*

 

Pos terkait