Viral Fenomena Kampung Mirip Bersalju di KBB

Aktivitas penggilingan dan pengolahan batu kapur di Cipatat, KBB. (Dicky Mawardi/Satumedia).**

SATUMEDIA.ID – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bandung Barat (KBB) merespons viralnya video yang memperlihatkan permukiman warga di Kampung Pamucatan, Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat, tertutup lapisan debu putih tebal hingga tampak menyerupai salju.

Pemerintah daerah memastikan akan melakukan peninjauan langsung ke lokasi untuk memverifikasi kondisi di lapangan sekaligus mengidentifikasi sumber debu yang dikeluhkan warga. Hasil pemeriksaan tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan.

Petugas Pengawas Perlindungan Lingkungan Hidup (PPLH) DLH KBB, Adhi Setyowibowo, mengatakan pihaknya belum menerima laporan resmi dari masyarakat terkait dugaan pencemaran udara di kawasan tersebut. Meski demikian, informasi yang ramai diperbincangkan di media sosial tetap akan ditindaklanjuti.

“Hingga saat ini belum ada laporan resmi yang kami terima. Namun karena persoalan ini sudah menjadi perhatian publik, kami akan turun langsung untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan,” kata Adhi, Sabtu (27/6/2026).

Ia menjelaskan, proses verifikasi akan dilakukan dengan mencocokkan kondisi aktual di lokasi dengan informasi yang beredar. DLH KBB juga akan berkoordinasi dengan instansi terkait agar hasil pemeriksaan lebih komprehensif.

“Kami akan mengumpulkan data di lapangan dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait sehingga penyebabnya dapat diketahui secara pasti,” ujarnya.

Di sisi lain, warga Kampung Pamucatan, Hidayat (42), mengungkapkan debu putih yang menyelimuti lingkungan tempat tinggal mereka bukanlah persoalan baru. Menurutnya, kondisi tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan semakin terasa saat musim kemarau.

Ia menduga debu berasal dari aktivitas penggilingan dan pengolahan batu kapur yang berada tidak jauh dari permukiman warga. Ketika cuaca kering, partikel debu lebih mudah terbawa angin hingga masuk ke dalam rumah.

“Kalau musim kemarau seperti sekarang, debu dari penggilingan lebih mudah terbawa angin dan masuk ke rumah warga,” ujarnya.

Hidayat mengaku paparan debu tidak hanya mengotori atap rumah, halaman, dan pepohonan, tetapi juga dikhawatirkan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Ia menuturkan anaknya pernah berulang kali mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) disertai sesak napas saat masih tinggal di lingkungan tersebut.

Menurut dia, keluhan kesehatan itu mulai berkurang setelah anaknya menetap di sebuah pesantren dengan kualitas udara yang lebih baik.

“Anak saya dulu sering ISPA dan sesak napas. Setelah pindah ke pesantren, keluhannya jauh berkurang,” katanya.

Meski terdampak, Hidayat menegaskan warga tidak menginginkan aktivitas pengolahan batu kapur dihentikan karena menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat. Mereka hanya berharap pemerintah dapat menata kembali keberadaan industri tersebut agar aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan warga.

“Harapan kami bukan usahanya ditutup, tetapi ditata dengan lebih baik, misalnya melalui pengaturan zonasi dan pengawasan yang lebih ketat agar dampaknya ke masyarakat bisa diminimalkan,” tandasnya.*

Pos terkait