Memilih Gubernur, Wali Kota dan Bupati yang Shiddiq, Amanah dan Fathonah

Dede Supriatna.(Dokumen pribadi)**

SATUMEDIA.ID – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tinggal hitungan bulan akan dilaksanakan pada Rabu, 27 November 2024. Dilansir dari laman jdih.kpu.go.id,peraturan KPU (PKPU) Nomor 2 Tahun 2024 memuat seluruh tahapan mulai dari persiapan, perencanaan, pembentukan badan ad hoc, penyusunan daftar pemilih, pendaftaran pasangan calon, masa kampanye, pemungutan dan perhitungan suara, pengangkatan calon terpilih hingga pengusulan pengesahan pengangkatan calon terpilih.

Tentunya, terlepas dari putusan MA yang masih pro dan kontra tentang mengubah batas calon gubernur (cagub) dan wakil cagub minimal berusia 30 tahun dan 25 tahun untuk calon bupati dan wakil bupati atau calon wali kota dan wakil wali kota, terhitung sejak pasangan calon terpilih.

Perhatian masyarakat atau pemilih nanti hendaknya dipusatkan pada kriteria calon Gubernur/Wakil Gubernur, Wali Kota/Wakil Wali Kota dan Bupati/Wakil Bupati yang mumpuni dan sesuai dengan harapan masyarakat. Walaupun para calon Gubernur/Wali Kota/Bupati sudah mulai muncul dan digadang-gadang terbaik menurut versi mereka, baik pengusung maupun parpol atau kelompok masyarakat tertentu. Siapa yang Anda pilih- kembali pada hati nurani sesuai pilihan yang mumpuni. Ada baiknya sebagai pemilih muslim untuk menerawang sekaligus untuk berpedoman dengan merujuk pada kepemimpinan nabi Muhammad SAW.

Berdasarkan penelitian dan literasi pada sirah Rasullah SAW karakteristik kepemimpinan Nabi Muhammad SAW adalah mengacu pada sifat istimewa yang dimiliki nabi Muhammad SAW.

Mulai dari sifat kepemimpinan Rasullah SAW yaitu Shiddiq’. Dalam Al-Quran kata yang terkait dengan sifat ini, yaitu : shaadiqal-wa’di yang artinya  benar janjinya juga sesuai sabda Rasullah SAW ا“Kalian harus berlaku jujur, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan. Dan kebaikan akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah.” (HR. Muslim).

Sifat Rasullah lainnya Amanah . Sifat Nabi Muhammad SAW dengan karakter amanah, atau dipercaya (al-amin) dicatat dalam berbagai kitab-kitab Hadis. Dalam berbagai catatan sirah, hari terakhir, ketika Nabi SAW hendak hijrah ke Madinah. Nabi SAW gunakan untuk mengembalikan semua barang-barang orang Quraish, yang tentu saja tidak beriman, yang mereka titipkan kepada Nabi SAW. Sifat Rasullah SAW lainnnya adalah Fathonah .

Salah satu sifat wajib bagi Nabi dan Rasul adalah Fathonah yang artinya cerdas. Sifat fathonah ini wajib dimiliki Nabi dan Rasul karena mereka harus mampu memberikan argumen, pendapat serta komunikasi yang baik dalam berdakwah untuk mengajak umatnya ke jalan yang benar.

Tidak hanya itu, Rasul merupakan manusia pilihan yang mempunyai kecerdasan tinggi. Fathonah artinya cerdas tersebut dibutuhkan untuk menjalankan tugas dari Allah SWT. Beliau menyampaikan ribuan ayat Al–Quran, menjelaskan dalam puluhan ribu hadist, menjelaskan firman–firman Allah, dan dituntut mempunyai kemampuan berdebat dengan orang kafir dengan cara sebaik mungkin.

Oleh sebab itu, wajar jika Rasulullah juga mempunyai banyak peran semasa hidupnya. Beliau berperan sebagai tokoh Islam, pemimpin, pebisnis, panglima perang hingga politisi. Sebagai utusan Allah SWT, para Rasul mempunyai kewajiban untuk menyampaikan kebenaran pada masing–masing umat.

Selanjutnya karakter kepemimpinan Rasullah SAW yang patut dicontoh dan diteladani oleh para calon kepala daerah nanti adalah : Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya, yang artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah (QS Al-Ahzab: 21).

Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang Gubernur, Wali Kota atau Bupati adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya (HR. Muslim).

Nabi Muhammad SAW diakui sebagai sosok pemimpin yang paling berpengaruh sepanjang sejarah di kehidupan umat manusia. Hal ini diakui oleh Michael Hart seorang penulis Barat dalam bukunya yang berjudul “The 100, a Ranking of The Most Influential Persons in History”. Secara obyektif ia menempatkan Nabi SAW sebagai orang paling berpengaruh dalam sejarah.

Rasulullah SAW tidak mengambil keputusan secara sepihak berdasarkan keinginan dirinya sendiri. Rasulullah SAW selalu mencari pemecahan masalah yang dihadapi dengan kekuatan bersama melalui musyawarah.

Rasulullah selalu menerapkan akhlak mulia dalam setiap tindakannya dalam kehidupan sehari-hari termasuk saat memimpin. Nabi merupakan pribadi yang menyenangkan, santai dan terbuka, mudah berkomunikasi dengan siapa pun, lemah lembut dan sopan, tidak keras dan tidak terlalu lunak, tidak pernah mencela, tidak pernah menuntut dan menggerutu, tidak mengulur waktu dan tidak tergesa-gesa.

Nabi Muhammad SAW memimpin dengan penuh rasa empati. Rasul tidak pernah mencaci seseorang, tidak mencari kesalahan orang lain, tidak berbicara kecuali yang bermanfaat.
Rasulullah SAW selalu mengedepankan keteladanan dalam memimpin, memberikan contoh dalam segala hal. Menjaga akhlakul karimah sangat berperan dalam kepemimpinan, karena seorang cenderung meniru dari apa yang dapat dilihatnya.

Rasulullah juga memberi teladan karena sifat rendah hati. Beliau tidak pernah memandang kedudukannya lebih tinggi dibandingkan orang lain. Beliau selalu menganggap derajat manusia adalah sama di hadapan Allah, dan ketakwaanlah yang menjadi pembedanya.*

 

Penulis Dede Supriatna Mantan Pekerja Bank BRI, lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM

 

Pos terkait