Menjamu Tamu, Menjamu Allah SWT

Dede Supriatna.(Dokumen pribadi)**

SATUMEDIA.ID – Islam merupakan agama yang mulia, ajarannya bukan hanya tentang mengajarkan bagaimana cara kita beribadah kepada Tuhan, melainkan juga bagaimana kita menjalani hidup dan bersosialisasi kepada sesama manusia.

Dalam Islam, memuliakan tamu juga merupakan sebuah amal shalih yang pahalanya bukan saja akan dibalas oleh Allah SWT di akhirat, tetapi juga akan mendapatkan balasan secara langsung di dunia yang akan segera dirasakan oleh pelakunya.

Rasulullah SAW juga pernah bersabda, yaitu. “Barang siapa yang beriman kepada Allah SWT dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya” (HR. Bukhari).

Bagaimana menjamu tamu dapat dimulai dengan disunahkan mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Rasulullah SAW bersabda, “Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal”.
(HR. Bukhari).

Rasulullah SAW bersabda, “Salam adalah doa yang meminta keselamatan.” (HR. Ahmad).

Selain salam pastikan adab dalam menyambut tamu dengan senyuman. Senyum adalah sedekah yang mudah dan murah, namun memiliki dampak yang besar.

Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kamu meremehkan sesuatu kebaikan walaupun hanya sekedar menemui saudaramu dengan wajah yang ceria.” (HR. Muslim).

Dengan menyambut tamu dengan senyuman, Anda menunjukkan bahwa Anda senang dengan kedatangannya dan senantiasa membuat mereka merasa nyaman dan dihargai. Senyuman juga bisa mencairkan suasana dan membangun hubungan yang baik antara dua belah pihak.

Berikutnya yakni usahakan untuk menerima tamu dengan pakaian yang rapih dan sopan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu yang datang.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR. Muslim). Dengan berpakaian rapih dan sopan, Anda juga menunjukkan bahwa Anda menjaga aurat Anda dan tidak menimbulkan fitnah bagi tamu Anda.“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap masjid.” (HR. Abu Daud).

Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memberikan tempat duduk yang baik kepada tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan mengajak tamu untuk duduk dengan nyaman, Anda juga menunjukkan bahwa Anda menghargai waktu dan kesempatan yang diberikan oleh tamu Anda untuk bersilaturahmi dengan Anda.  Perlu diperhatikan kebersihan dan kerapihan. Ini dimaksudkan agar tamu yang datang tidak merasa jijik maupun kurang nyaman dengan kondisi tempat tinggal Anda.

Dianjurkan untuk bersikap ramah dan sopan terhadap tamu yang datang. Ini merupakan cerminan seseorang yang berakhlak baik, tidak sombong atau kasar kepada tamu.

Sebagaimana sabda yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, “Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selanjutnya yaitu memastikan bahwa Anda menghormati privasi tamu. Jangan pernah berusaha untuk mengusik, mengganggu, atau bahkan menyusahkan tamu untuk hal-hal yang tidak perlu atau tidak penting.

Kemudian, menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu makanan semampunya saja. Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik.

Allah SWT telah berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim AS bersama tamu-tamunya: “Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu-tamu Ibrahim-ed) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan? (QS. Adz-Dzariyat: 26-27).

Hendaknya juga, dalam pelayanannya diniatkan untuk memberikan kegembiraan kepada sesama muslim. Selain itu mendahulukan tamu yang lebih tua daripada tamu yang lebih muda, sebagaimana sabda dari Rasulullah SAW ”Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami “(HR Bukhari ).

Perlu diperhatikan jangan mengangkat hidangan sebelum tamu selesai menikmati. Selanjutnya di antara adab orang yang memberikan hidangan ialah mengajak mereka berbincang-bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, tidak tidur sebelum mereka tidur, tidak mengeluhkan kehadiran mereka, bermuka manis ketika mereka datang, dan merasa kehilangan tatkala pamitan pulang.

Mendekatkan makanan kepada tamu ketika menghidangkannya.. Mempercepat untuk menghidangkan makanan bagi tamu sebab hal tersebut merupakan penghormatan bagi mereka. Merupakan adab dari orang yang memberikan hidangan ialah melayani para tamunya dan menampakkan kepada mereka kebahagiaan serta menghadapi mereka dengan wajah yang ceria dan berseri-seri.

Adapun masa perjamuan tamu, bagaimana sesuai dengan anjuran Rasulullah SAW dalam hadistnya, yakni.“Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.”

Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Rasulullah SAW bersabda: “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.”.

Dalam menjamu tamu tidak mengkhususkan mengundang orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang miskin, berdasarkan sabda Rasulullah SAW “Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan.(HR. Bukhari Muslim). Adab menerima tamu dalam Islam adalah nilai-nilai dalam agama yang perlu diamalkan sebagaimana menerima tamu adalah salah satu bentuk silaturahmi yang dianjurkan dalam Islam.

Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang datang ke rumah kalian, maka hendaklah ia mengucapkan salam. Jika ia diberi izin untuk masuk, maka hendaklah ia masuk. Jika ia tidak diberi izin, maka hendaklah ia kembali.” (HR. Muslim).

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Janganlah kamu saling memata-matai, saling mencari-cari aib, saling membenci, saling berputus asa, saling membelakangi, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim).

*Penulis Dede Supriatna Alumni Tahassush Kulliyatil Muballighin Assyakur Angkatan 31/2023 dan lulusan Magister Ekonomi Pembangunan FEB UGM

Pos terkait